Malam
ini, aku tak sengaja membuka buku catatanku dulu. Isi buku itu quotes, cerita
awal dulu buka lapak baca dirumah(yang sekaang tidak diteruskan) dan.....
Sebuah pesan dari Dosenku tentang masalaluku. Akupun mengingat kejadian tahun
2016. Kisahku dengan dia, kejadian yang cukup membuatku menangis di hadapan
temen-temen cowok kelasku. Dan akhirnya aku memutuskan bercerita ke Dosenku,
yang menurutku cocok untuk masalahku ini. Aku tidak cerita pada
temenku(walaupun akhirnya ketahuan dan cerita) karena aku takut membuat images
dia buruk di mata temenku, bodoh gak sih aku? Hehe .
Aku
pun janjian sama Dosenku yang aku bela-belain ke tempat kerjanya yang ada di
kampus sebelah. Akupun bercerita dan aku masih ingat banget aku cerita sampek
nangis, astaga. Apa feedback dosenku? Dia nyalahin aku, dia punya pandangan
sendiri terkait kisahku tadi. Bayangi, loh certa dan loh yang disalahin pula.
Tapi dari situ aku sadar sesuatu, mungkin aku terlalu naif, gak relevan, gak
masuk akal, merasa paling bener, bodoh dll. Hingga akhirnya terbentuk sifat
cuek, tak acuh, benci, kelihatan kuat hingga sekarang.
Setalah
masalah itu berlalu, dia datang menawarkan kebaikan selama 2 hari di kota
rantauku dan membuatku percaya tapi walaupun tak seperti dulu. Kembalinya dia
ke kotanya, dalam hitungan hari semua semakin rumit dan sudahlaaaaah. Mulai
dari itu, aku membuat benteng pertahanan, menghidari semua yang berbau dia, aku
gak lihat instagram, bales chat ( walaupun dapat diitung berapa kali), WA, FB
dll. Saat aku melihat berbau dia, mengingatkanku dengan kisah dahulu dan nyeri
dihati ini masih ada. Mungkin caraku salah, bahkan benar-benar salah. Harusnya
kita masih bisa menjadi teman dan menjaga silahturahmi, seperti yang kamu sudah
bilang awal kita komitmen tapi bagiku itu cukup susah. Maafkan aku, aku bukan
sepertimu yang sabar, punya hati baik dan suka bersilahturahmi serta menjaga
hubungan baik.
TEA, 26 Maret 2018

