Senin, 19 Maret 2018

Resensi Caramel Macchiato



Judul               : Caramel Macchiato : Ketika Penyelesalan Cinta Datang Terlambat
Penulis             : Iffah Ariqoh
Editor              : Ikhdah Henny & Dila Maretihaqsari ( Penyunting)
Penerbit           : Bentang Pustaka
Tahun Terbit    : Cetakan Pertama, Juni 2016
Jumlah Halaman : vii, 168 Halaman
ISBN               : 978-602-1383-98-8
Peresensi         : Richa TEA, Alumni D3 Teknisi Perpustakaan Universitas Airlangga

“Gue suka sama lo” laki-laki berseragam itu berkata pada perempuan itu, tepat di depan teman-temannya. Jantung Keiza berdegup kencang, bingung, diam dan kaku. Lelaki itu kembali bersuara, “Mau, Nggak, Jadi pacar gue?” lelaki berlutut di hadapan sahabat Keiza, bukan di hadapan Keiza. Kaiza melangkah mundur dan menuju gudang sekolah. Tiba-tiba ada seorang lelaki memanggilnya dengan nada lembut, “Salsha”. Keiza heran kenapa ada orang yang memanggilnya Salsha, karena dia tidak suka dipanggil Salsha. lelaki itu mendekat, tetapi Keiza idak melihat wajahnya hanya ada seliut wajahnya.
Keiza terbangun dan menghembuskan nafas, tenyata itu mimpi. Keiza membuka ponselnya, melihat foto seorang lelaki-laki dengan gaya candid, perawakan tinggi tetapi bukan sosok tampan. Dia yang membuku di hati Keiza. Namanya Davian. Keiza masih ingat tanggal 28 di taman belakang sekolah pukul tigal lebih tujuh menit, Davian mengajaknya jadian. Keiza tak menjawabnya hingga Davian berubah menjadi dingin seperti tak mengenalnya. Setiap saat Kaiza mencuri padang Davian tetapi sikap Davian selalu kaku.
Keiza adalah pemain piano di sekolahnya. Saat berpain piano di ruang musik, Keiza mendapatkan surat berwarna biru yang berisi “ lo cantik semoga lain waktu kita bisa kenalan”. Keiza sama sekali tak peuli surat itu, mungkin orang iseng dan bukan untuknya. Saat asyik bermain Piano dengan alunan musik “Fun Elise” tiba –tiba Keiza berhenti. Ada seorang laki-laki di depan pintu, lalu duduk di samping Keiza dan melanjutkan alunan musik yang Keiza mainkan. Siapa dia? Dia Aji, Aji Syarif Alatas, anak pindahan.
Siapa sangkah akhirnya Davian mau diajak Keiza bicara. Keiza berkata ke Davian, “Gue suka sama lo”. Davian menjawab, “ Maaf Kei, gue gak bisa”. Setelah itu mereka berteman dan Keiza dapat melihat senyum Davian. Mimpi Keiza menjadi Kenyataan dan persis, Davian menyatakan suka sama Rika/Norika sahabat Keiza. Kei terpukul secara tanggap ada seorang laki-laki memegang tangannya dan menariknya pergi.
Keiza selalu ke cafe High Five dan memesan Caramel Macchiato, kopi kesukaanya. Saat mengambil ponselnya, ternyata tidak ada. Lalu datang seorang lelaki yang membawa HP-nya yang ia temukan di depan toilet. Ia Juno, Herjuno anak eksul basket. Winter cafe memberikan Keiza surat berwarna biru, salah satu tulisannya “Gue suka sama lo”. Sudah kesekian kali Keiza mendapat surat biru itu? Siapa yang memberi lalu apa maksudnya?
Cerita yag ditawarkan cukup berbeda dengan yang lain walaupun latar belakangnya sama yaitu percintaan saat SMA. Cerita cinta dan romantis yang diberikan tidak mudah ditebak dan memberikan rasa penasaran. Tokoh dicerita memiliki keunikan tersendiri, apalagi dengan adanya surat berarna biru yang berisi kata-kata itu. Surat berwarna biru itu memberikan warna cukup menarik dan membuat penasaran siapa yang memberi. Saat membacanya pengen segera selesai dan ending dari cerita beda banget dan tidak bisa ditebak. Novel ini telah di baca 6,6 juta di waatpad.
Banyak makna terserat dari cerita ini salah satunya jangan menyesal dikemudian hari dan lalukan sesuai hati kamu. Salah satu isi kalimat surat berwarna biru itu, “kalau gue disuruh untuk berhenti buat suka sama loh, gue gak bisa. Karena gue sadar, ini bukan perasaan yang biasa orang lain rasakan.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan Lama

Malam ini, aku tak sengaja membuka buku catatanku dulu. Isi buku itu quotes, cerita awal dulu buka lapak baca dirumah(yang sekaang tidak...